Jumat, 09 November 2012
Kamis, 08 November 2012
Kamis, 18 Oktober 2012
Kekuatan Pikiran
Banyak
orang sangat meyakini bahwa kekuatan pikiran positif dapat membawa manusia
meraih kesuksesan dalam mencapai tujuannya. Memang, tidak diragukan lagi, kalau
kekuatan pikiran positif ini dan membawa manusia pada kesuksesan dalam meraih
tujuannya. Mereka yang dapat mengarahkan pikirannya selalu kearah positif, maka
diyakini bahwa hasilnya adalah sesuatu kehidupan yang positif juga.
Meskipun
demikian, kita sebagai manusia yang memiliki keyakikan keimanan kepada Allah,
sebaiknya menyadari bahwa bukan hanya mengandalkan kekuatan otak semata, bukan
hanya mengandalkan akal dan kekuatan pikiran semata. Karena sesungguhnya ada
kekuatan lain yang lebih dahsyat dari kekuatan otak, akal dan pikiran. Kekuatan
ini bukan hanya mengantarkan manusia meraih sukses namun juga mampu
mengantarkan manusia pada kemuliaan hidup. Yakni kekuatan hati atau kekuatan
hati yang positif, kekuatan hati yang jernih. Kekuatan hati ini memiliki
kedahsyatan yang melebihi kekuatan pikiran manusia. Karena hati adalah rajanya,
hatilah yang mengatur dan memerintahkan otak, pikiran dan panca indra manusia.
Tuhan
melalui berbagai ajaran yang dibawa oleh para Nabi, maupun melalui kitab
suci-NYA telah mengajarkan kepada manusia untuk senantiasa mendengarkan suara
hati nuraninya. Mengajarkan manusia untuk dapat memelihara kejernihan hatinya,
sehingga sifat-sifat mulia yang tertanam dalam hati dapat memancar ke
permukaan. Karena di dalam hati manusia sudah tertanam “ built in” percikan
sifat-sifat “Illahiah”
dari Allah Tuhan Sang Pencipta Kehidupan. Diantara sifat-sifat mulia Allah yang
tertanam dalam hati manusia adalah sifat kepedulian, kesabaran, kebersamaan,
cinta dan kasih sayang, bersyukur, ikhlas, damai, kebijaksanaan, semangat, dan
lain sebagainya. Karena itu sesungguhnya kekuatan hati ini sangat “powerfull” untuk meraih
kesuksesan dan kemuliaan dalam segala bidang kehidupan.
Di
dalam hati tempatnya pusat ketenangan, kedamaian, kesehatan, dan kebahagiaan
sejati yang hakiki. Bahkan hati merupakan cerminan dari diri dan hidup manusia
secara keseluruhan. Di dalam hati terdapat sumber kesehatan fisik, kekuatan
mental, kecerdasan emosional, serta penuntun bagi manusia dalam meraih kemajuan
spiritualnya. Hati menjadi tempat di mana sifat-sifat mulia dari Allah swt Sang
Pencipta Kehidupan bersemayam. Hati adalah tempat dimana semua yang hal yang
terindah, hal yang terbaik, termurni, dan tersuci berada di dalamnya.
Dengan
demikian, kekuatan hati ini sangat “powerfull”
dan sangat dahsyat dalam membawa manusia meraih sukses dan kemuliaan dalam
segala bidang kehidupan. Hati yang jernih akan melahirkan pikiran-pikiran yang
jernih dan pada akhirnya melahirkan tindakan-tindakan mulia berdasarkan suara
hati nurani. Kejernihan hati dapat menjadikan manusia menjadi mampu betindak
bijaksana, memiliki semangat positif, cerdas dan berbagai sifat-sifat mulia
lainnya. Dengan hati yang jernih, kita dapat berpikir jernih dan menjalani
kehidupan dengan lebih produktif, lebih semangat, lebih efisien dan lebih
efektif untuk meraih tujuan.
Hati
adalah kunci hubungan manusia dengan Tuhannya. Karena Hati adalah tempat
bersemayamnya Iman, dengannya kita bisa berkomunikasi dengan sang Khaliq. Hati
juga menjadi kunci hubungan dengan sesama manusia. Hubungan yang dilandasi kejernihan
hati dapat menjadikan hubungan yang lebih sehat, baik dan konstruktif dengan
siapapun. Karena hubungan yang dilandasi kejernihan hati akan mengedepankan
kasih sayang, kejujuran, kebersamaan dan saling menghormati. Hubungan dengan
manusia akan terasa menyenangkan, menghadirkan kedamaian dan kebahagiaan.
Dengan demikian akan semakin banyak orang lain yang akan memberikan dukungan
bagi kesuksesan kita
Dalam meraih
kesuksesan sebaiknya jangan hanya mengandalkan kekuatan otak semata. Karena
otak atau pikiran merupakan sesuatu yang terbatas dan bersifat sementara.
Berusahalah menggunakan kekuatan hati nurani, menggunakan kekuatan kejernihan
hati dengan seimbang. Gunakanlah kekuatan hati yang positif, karena dialah
sesungguhnya diri sejati Anda. Hatilah tempat sifat mulia Allah swt Sang Pencipta
bersemayam di dalam diri kita. Dengan senantiasa menggunakan kekuatan hati,
mendengarkan suara hati, akan membawa manusia menjalani kehidupan dengan penuh
kedamaian dan kebahagiaan. Kalau seseorang dapat merasakan kedamaian hati dan
kebahagiaan hati, maka akan memiliki hidup yang penuh dengan Sukses dan
kemuliaan.
Namun, berbagai
godaan kehidupan modern seringkali dapat mengotori kejernihan hati. Sikap
egoisme, mementingkan hawa nafsu, mengikuti ambisi meraih kekuasaan dengan
menghalalkan segala cara dan berbagai emosi-emosi negatif seperti amarah,
dendam, benci dan iri hati dapat menjadikan kejernihan hati terbelenggu, Hati
yang terbelenggu cahaya kejernihannya tidak dapat memancar ke permukaan. Inilah
yang dapat melemahkan kehidupan spiritual umat manusia. Kalau dibiarkan, dapat
menjadikan kita semakin sulit mendengarkan bisikan hati dan lebih mempercayai
atau mengandalkan kemampuan otak serta produk-produk pikiran atau akal semata.
Inilah yang akan melahirkan ketidak seimbangan antara kemampuan nalar dengan
hati nurani, sehingga melahirkan berbagai masalah dalam kehidupan.
Jadikanlah hati nurani Anda sebagai
pembimbing dalam setiap langkah kehidupan. Berusahalah menjaga kejernihan hati,
agar rahmat dan berkah dari Allah senantiasa mengalir dan memberikan yang
terindah untuk hati, perasaan dan seluruh diri kita.
Macam Macam Pemikiran
Pemikiran dibagi
menjadi tiga, yaitu:
1.
Pemikiran dangkal (al fikru al sathhy)
yaitu melihat sesuatu kemudian menilainya tanpa adanya pemahaman.
2.
Pemikiran mendalam (al fikru al ‘amiq)
yaitu melihat sesuatu kemudian memahaminya, setelah itu baru menilai.
3.
Pemikiran cemerlang (al fikru al
mustanir) yaitu melihat sesuatu, lalu memahaminya dan memahami segala
hal yang terkait dengannya, kemudian baru menilai.
Contoh
berikut ini dapat digunakan untuk menjelaskan tiga macam pemikiran di atas,
yaitu ketika manusia melihat pohon kismis yang memiliki daun dan berbuah. Orang
akan menemukan bahwa pohon tersebut memiliki buah, daun dan kayu. Ketika
melihat daun yang menghiasi pohon itu, orang memberikan penilaian bahwa manfaat
daun hanyalah untuk hiasan pohon. Pandangan ini adalah pengambilan kesimpulan
tanpa berpikir terlebih dahulu tentang daun, dan ini akan mengantarkan pada
pemberian penilaian yang tergesa-gesa. Ini adalah penilaian yang dangkal.
Adapun
jika disodorkan daun kismis kepada pakar biologi, kemudian ia membawanya ke
laboratorium dan melakukan penelitian (al
ikhtibar), akan dilihat bahwa daun tadi mengandung stomata (ri’ah tanaffusiyyah) yang berfungsi
mengambil karbon dari udara, dan mengandung klorofil (yakhdlur) yang berputar pada daun seperti berputarnya mesin
mobil, serta mengandung pembuluh kecil (al
‘uruq) yang menghubungkan daun dengan ranting, agar bisa berkembang.
Kemudian akibat dari proses yang berlangsung pada seluruh unsur di daun dan
bekerja dengan tugasnya masing-masing, akan menyebabkan biji kismis bertambah
manis dan berkembang. Melakukan penelitian yang rinci tentang daun akan
mengantarkan pada penilaian yang mendalam tentang daun. Jadi, ini adalah
penilaian yang mendalam.
Akan
tetapi, jika orang yang mengkaji, setelah melakukan penelitian terhadap daun
kismis, juga mengkaji seluruh hubungan yang terkait dengannya, sehingga tidak
ada satu pun aspek interaksi yang ditinggalkan dalam penelitiannya —dia
melakukan penelitian dan mengetahui semua— maka akan tampak baginya
rahasia-rahasia ciptaan dalam daun, hukum-hukum dan aturan-aturan yang terdapat
di dalam daun. Penilaian ini datang dari pemikiran yang cemerlang. Adapun jika
orang hanya berhenti pada kekaguman terhadap keindahan daun yang menghiasi
seluruh pohon tadi, maka orang tersebut masih terbatas pada pemikiran yang
dangkal, dan sudah pasti orang ini tidak memiliki pemikiran yang cemerlang,
karena pemikiran cemerlang harus didahului dengan pemikiran yang mendalam.
Pemikiran
dangkal terjadi karena adanya transfer fakta ke otak tanpa usaha untuk
mengindra apa yang berhubungan dengannya, dan tanpa mengaitkan pengindraan
dengan ma’lumat yang
berhubungan dengannya. Akibatnya, dihasilkan penilaian yang dangkal. Dan,
pemikiran seperti ini biasanya terjadi pada orang-orang yang yang terbelakang
dan pada orang-orang bodoh; tidak terdidik dan tidak terbina.
Penyelesaian
atau paling tidak mengurangi pemikiran yang dangkal, dapat ditempuh dengan
beberapa cara, yaitu: Pertama,
dengan menghilangkan kebiasaan berpikir dangkal yang dimilikinya, kemudian
mengajari dan mendidik mereka dengan pemikiran yang lebih tinggi. Kedua, dengan memperbanyak latihan
untuk mereka dan menghadapkan dengan realita sebenarnya. Ketiga, mengharuskan mereka hidup
dalam kehidupan yang sebenarnya (live
in). Dengan ini, akan meningkatkan pola berpikir mereka.
Jika
orang yang memiliki pemikiran mendalam banyak di tengah-tengah umat, maka
menggandeng tangannya untuk “bangkit” lebih mudah. Orang-orang ini, jika hidup
di tengah-tengah umat, walau memiliki informasi yang terbatas, dan mengindra
satu atau beberapa realita yang ada serta hidup di masa yang sama, mereka akan
mampu memajukan umatnya. Mereka mampu mentransformasi umat dari satu keadaan ke
keadaan yang lebih baik, mereka mampu menggambarkan kehidupan dengan gambaran
yang faktual, karena mereka memiliki pemikiran yang benar dan pendapat yang shahih. Mereka memiliki al ihsas al fikri, yakni pemahaman
yang dihasilkan dari pengindraan. Meskipun memiliki indra dan otak yang sama
dengan orang biasa, karakteristik pengaitan yang terdapat pada otaknya lebih
kuat, yang itu merupakan keunggulannya. Mereka mampu mengaitkan pengindraan
dengan al ma’lumat al tsabiqah
dengan benar. Artinya, pemikirannya adalah pemikiran unik yang berbeda dengan
yang lain (al mutamayyiz).
Memiliki al ihsas al fikri,
yang menjadikan mantiqul ihsas-nya
tinggi. Oleh karena itu, harus diupayakan pengentasan orang-orang yang
berpikiran dangkal, sehingga di tengah-tengah umat terdapat para pemikir yang
menjadi tiang sandaran bagi umat, dan, akan mengantarkan pada jalan kemajuan
dan kemuliaan. Inilah pemikiran dangkal dan cara pengentasannya.
Pemikiran
yang mendalam adalah mendalam pada pengindraan realita dan ma’lumat yang dikaitkan dengan
pengindraan untuk memahami realita. Orang yang memiliki pemikiran yang
mendalam, tidak akan cukup hanya dengan mengindra atau dengan memiliki al ma’lumat al tsabiqah saja, seperti
orang yang berpikiran dangkal. Ia selalu mengulang-ulang pengindraan terhadap
realita dan berusaha melakukan pengindraan seoptimal mungkin, dengan cara
penelitian. Ia selalu mencari informasi yang valid dan bervariasi, dan
mengulang pengaitan antara informasi dan realita sebanyak-banyaknya. Pemikiran
mendalam tidak cukup hanya dengan mengindra sekali, lebih dari satu ma’lumat, pengaitan berulang-ulang.
Jadi, berpikir mendalam adalah tahap kedua atau derajat yang lebih tinggi dari
berpikir dangkal. Ini adalah pemikiran para intelektual (ulama’) dan orang-orang yang mendapat
predikat pemikir.
Ringkasnya,
berpikir mendalam adalah mendalam dalam pengindraan, ma’lumat dan pengaitannya.
Pemikiran
cemerlang adalah pemikiran mendalam ditambah dengan berpikir terhadap segala
sesuatu yang terkait dengannya agar dicapai kesimpulan yang benar. Berpikir
mendalam dibangkitkan oleh ke dalam pemikiran. Sementara berpikir cemerlang
adalah berpikir sampai pada sisi-sisi lain dari kedalaman pemikiran, dan
berpikir terhadap segala sesuatu yang terkait dengannya agar dicapai tujuan
yang dimaksud, yaitu diperoleh kesimpulan yang benar. Setiap pemikiran cemerlang
adalah berpikir yang mendalam, dan tidak mungkin pemikiran cemerlang dihasilkan
dari berpikir yang dangkal.
Setiap
pemikiran mendalam tidaklah pemikiran yang cemerlang, karena tidak mengaitkan
objek yang dikaji dengan segala sesuatu yang berhubungan dengannya, dan dibatasi
hanya pada kerangka berpikir mendalam saja, maka itu bukanlah pemikiran yang
cemerlang. Contohnya, seorang mujtahid
dalam menghukumi suatu kejadian atau masalah tertentu, dia akan
menggunakan pemikiran yang mendalam, mengkaji Al Qur’an dan Al sunnah
dengan mendalam, untuk menyelesaikan masalah (al musykilah). Selama pandangannya masih sebatas memahami
masalah, lalu memberikan hukum atas masalah itu, berarti mujtahid tersebut hanya berada dalam
kerangka pemikiran yang mendalam.
Contoh
lain, seorang pakar atom (‘alim al
dzarrah) dalam mengkaji pembelahan atom, atau pakar kimia dalam mengkaji
pengklasifikasian atom dan molekul. Mereka membahas secara mendalam, dan dengan
metode pemikiran mendalam tersebut ia mampu mencapai hasil yang diinginkannya.
Jika pakar atom tersebut tidak berhenti hanya sebatas membelah atom, tetapi ia
tergerak untuk mengetahui interaksi atom di alam, dan dalam penyusunan
benda-benda, meneliti hasil dan konsekuensi-konsekuensi dari interaksi dan
penyusunan tersebut. Maka pakar atom ini telah berpikir cemerlang, tidak hanya
sekedar berpikir mendalam. Setiap pemikiran mendalam tidak selalu pemikiran
cemerlang. Berpikir mendalam tidak serta-merta mampu membangkitkan manusia dan
mengangkat level pemikirannya, akan tetapi yang mampu membangkitkan manusia
adalah kecemerlangan berpikir. Kecemerlangan berpikir akan mewujudkan
ketinggian pemikiran, yang dengannya akan mengantarkan kepada kebangkitan.
Meskipun
terdapat kecemerlangan berpikir belum tentu mengantarkan pada hasil yang benar,
seperti pada ilmu eksak, hukum, kedokteran dan lain-lain, akan tetapi kecemerlangan
berpikir secara pasti akan meningkatkan level pemikiran, dan akan melahirkan
para pemikir. Oleh karena itu, untuk membangkitkan umat tidak cukup hanya dengan
keberadaan ilmuwan (ilmu eksak), ahli fiqh,
ahli undang-undang, dokter dan insinyur, tetapi yang terpenting harus ada
kecemerlangan berpikir. Artinya, terdapat pemikir yang cemerlang.
Oleh
karena itu, secara pasti dapat dikatakan, bahwa jalan lurus yang harus ditempuh
manusia adalah jalan pemikiran yang cemerlang, yang akan merealisasikan kebangkitan
pemikiran yang shahih.
tulah
macam-macam pemikiran. Kita dapat menggunakan berbagai pemikiran yang ada untuk
memenuhi naluri dan kebutuhan jasmani. Akan tetapi, metode pemenuhannya
berbeda-beda menurut aktifitas dan jenis berpikirnya. Jika kita memperhatikan
perbedaan antara manusia dan hewan, kita akan mendapati bahwa manusia selalu
dinamis (ibda’), semakin tingi
(irtiqa’) dan maju (taqaddum) secara kontinyu, sedangkan
hewan statis dengan keadaannya. Hewan juga mencari sarana-sarana untuk memenuhi
naluri dan kebutuhannya seperti manusia, hanya saja, pencariannya sekedar untuk
memenuhi naluri dan kebutuhannya, sedangkan cara mendapatkan dengan sarana apa
—meskipun jenisnya berbeda— hewan tidak memperhatikannya, sebab telah
terealisasi kebutuhannya, baik kebutuhan jasmani maupun nalurinya.
Manusia
selalu mencari hasil yang lebih tinggi dalam perjalanan hidupnya, sehingga
mereka selalu berjuang untuknya, yang kesemuanya sangat bergantung pada pengalaman
dan lingkungan masyarakatnya.
Manusia
berbeda dengan hewan, dalam kemampuan mengaitkan realita dan informasi. Manusia
memiliki kemampuan, sedangkan hewan tidak.
Tanpa
adanya pengaitan antara al ma’lumat al
tsabiqah dengan realita, tidak akan pernah ada kemajuan. Pemikiran yang
cemerlang adalah dasar pijakan munculnya pertanyaan-pertanyaan: Dari mana saya?
Kenapa saya ada? Dan, kemana saya akan kembali?
Pemikiran
yang cemerlang akan mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas dengan jawaban
yang memuaskan akal, menentramkan hati dan menenangkan jiwa. Kita harus
menggunakan aktivitas berpikir dengan metode aqliyah, bukan dengan metode ilmiah. Manusia tidak bisa
dijadikan kelinci percobaan di laboratorium, karena manusia bukan materi yang
bisa dicairkan atau dipecah. Kita harus dapat menyimpulkan ketiga pertanyaan di
atas, yakni kita harus memahami hakikat, eksistensi dan peran kita di dunia.
Hakikat utama dan terpenting adalah kita tertunjuki iman kepada Allah SWT. Akan
tetapi, sebelum kita bertolak untuk menggapai petunjuk keimanan pada hakikat
eksistensi Allah SWT dengan metode pemikiran yang cemerlang, kita harus
melakukan petualangan pemikiran (jaulah
fikriyah) pada alam semesta, manusia dan kehidupan dengan pemikiran yang
mendalam agar kita mengetahui hakikat manusia, sehingga pijakan kita adalah
pijakan yang selamat dan dibangun berdasar pemikiran yang cemerlang.
Petualangan Pemikiran
Keimanan
kepada Al Khaliq, menggapai
petunjuk cahaya keagungan-Nya dan kebesaran kekuasaan-Nya adalah masalah utama
dan mutiara yang ada di hadapan manusia sejak terbuka hatinya. Setiap saat,
kita mempunyai waktu untuk menyaksikan, meneliti, memperhatikan dan menyelidiki
yang dapat mengantarkan kepada petunjuk hakikat Sang Pencipta (Al Khaliq) yang telah menciptakan
manusia dan segala sesuatu yang ada di sekitarnya, seperti air (al maa’), udara (al hawa’), tanah (al turaab), tumbuh-tumbuhan (al syajar), tanaman (al nabat), hewan, dan zat-zat padat (al jamad). Dialah yang menciptakan
alam raya yang membentang luas ini.
Hingga
saat ini, temuan ilmiah yang telah dihasilkan manusia banyak sekali, bahkan
sampai tidak terhitung jumlahnya. Terkadang, hasil temuannya masih terbatas
pada sesuatu untuk pijakan penemuan selanjutnya, atau sudah mampu membongkar
rahasia keingintahuan manusia.
Akan
tetapi, ilmu pengetahuan yang banyak tersebut belum bisa menetapkan darimana
segala sesuatu itu berasal, baik yang hidup atau yang mati. Eksistensi segala
sesuatu tersebut tegak di atas aturan yang sangat rinci, meyakinkan dan hukum
yang sangat serasi dan indah. Sehingga kalaupun terdapat perubahan, justru
menguatkan hukum-hukum dan aturan-aturan itu. Tidak mungkin ada yang mampu
menyalahi perputaran perjalanan alami keberadaan benda, tetapi semuanya tunduk
dan berjalan dengan pengendalian Zat Yang Maha Sadar dan Maha Merencanakan,
dengan pengaturan yang meyakinkan. Dialah yang menciptakan, menegakkan dan
menyempurnakan segala sesuatu.
Ilmuwan
—ketika berhasil menyingkap hakikat hukum alam— pasti akan memproklamirkan
keimanannya yang benar terhadap keagungan kekuasaan Sang Pencipta, Sang
Penyempurna, dan Sang Pengatur alam. Bentuk apa pun yang dikehendaki akan
disusun-Nya, keadaan apa pun yang diinginkan akan dibuat oleh-Nya.
Marilah
berpetualang dengan merenung dan berpikir yang mendalam tentang kehidupan,
manusia, dan alam semesta! Untuk mengetahui sekelumit temuan-temuan ilmu
pengetahuan. Ilmu pengetahuan dan temuan-temuannya tidak hanya mengungkap
misteri dan rahasia alam saja, tetapi akan menunjukkan pada hukum-hukum
penciptaan dan kekuatan dalam pengaturan. Tidak mungkin manusia —setinggi apa
pun ilmu pengetahuannya— mampu membuat dan menetapkan yang sama seperti itu.
Jika
telah terkuak sedikit saja misteri alam dari kajian-kajian ilmu meteorologi,
biologi, fisika, kimia, astronomi, dan kedokteran, maka akan menampakkan
keajaiban-keajaiban dan keanehan-keanehan yang menunjukkan hakikat Sang
Pencipta (Al Khaliq), keagungan
Uluhiyah, dan kebesaran Rububiyah-Nya.
Adalah
suatu ketetapan yang tak terbantahkan adanya keselarasan temuan-temuan ilmiah
dengan keimanan. Keduanya saling mengokohkan dalam memahami berbagai hakikat.
Tugas 2
Sebutkan Dan Jelaskan
Teori2 Organisasi Yang Pernah Ada Dan Berlaku Beserta Sejarah Dan
Perkembangannya Hingga Sekarang.
Teori organisasi yang
pernah ada
Teori Organisasi Klasik
Teori
klasik (classical theory) kadang-kadang disebut juga teori tradisional, yang
berisi konsep-konsep tentang organisasi mulai dari tahun seribu delapan
ratusan(abad 19) yang mendefinisikan organisasi sebagai struktur hubungan,
kekuasaan-kekuasaan, tujuan-tujuan, peranan-peranan, kegiatan-kegiatan,
komunikasi dan faktor-faktor lain yang terjadi bila orang-orang bekerja sama.
Dalam
teori ini, organisasi secara umum digambarkan oleh para teoritisi klasik
sebagai sangat tersentralisasi dan tugas-tugasnya terspesialisasi, serta
memberikan petunjuk mekanistik structural yang kaku tidak mengandung
kreativitas. Teori ini juga berkembang dalam tiga aliran yang dibangun atas
dasar anggapan-anggapan yang sama dan mempunyai efek yang sama, yaitu :
- Teori birokrasi : dikemukakan oleh Max Weber dalam bukunya “The Protestant Ethic and Spirit of Capitalism.
- Teori administrasi : dikembangkan atas dasar sumbangan Henry Fayol dan Lyndall Urwick dari Eropa serta Mooney dan Reiley dari Amerika.
- Manajemen ilmiah : dikembangkan mulai tahun 1900 oleh Frederick Winslow Taylor.
Teori Organisasi Neoklasik
Teori neoklasik secara sederhana dikenal sebagai teori/aliran hubungan
manusiawi (The human relation movement). Teori neoklasik dikembangkan atas
dasar teori klasik. Anggapan dasar teori ini adalah menekankan pentingnya aspek
psikologis dan social karyawan sebagai individu maupun sebagai bagian kelompok
kerjanya, atas dasar anggapan ini maka teori neoklasik mendefinisikan “suatu
organisasi” sebagai sekelompok orang dengan tujuan bersama. Perkembangan teori
neoklasik dimulai dengan inspirasi percobaan-percobaan yang dilakukan di
Howthorne dan dari tulisan Huga Munsterberg.
Dalam hal pembagian kerja, teori neklasik telah mengemukaan perlunya hal-hal
sebagai berikut:
- Partiipasi, yaitu melibatkan setiap orang dalam proses pengambilan keputusan.
- Perluasan kerja (job enlargement) sebagai kebalikan dari pola spesialisasi.
- Manajemen bottom-up yang akan memberikan kesempatan kepada para yunior untuk berpartisipasi dalam pengambilan keputusan manajemen puncak.
Teori Organisasi Modern
Teori modern yang kadang – kadang disebut juga sebagai analisa system pada
organisasi merupakan aliran besar ketiga dalam teori organisasi dan manajemen.
Teori modern melihat bahwa semua unsur organisasi sebagai satu kesatuan dan
saling ketergantungan, yang di dalamnya mengemukakan bahwa organisasi bukanlah
suatu system tertutup yang berkaitan dengan lingkungan yang stabil, akan tetapi
organisasi merupakan system terbuka.
Perbedaan
Teori Modern dan Teori klasik :
- Teori klasik memusatkan pandangannya pada analisa dan deskripsi organisasi , sedangkan Teori Modern dengan tekanan pada perpaduan dan perancangan menjadikan pemenuhan suatu kebutuhan yang menyeluruh.
- Teori klasik telah membicarakan konsep koordinasi, scalar dan vertical, sedangkan Teori Modern lebih dinamis dari pada teori lainnya dan meliputi lebih banyak variable yang dipertimbangkan.
SEJARAH ORGANISASI
(Nancy Dixon, 1994) organisasi adalah kemampuan untuk memanfaatkan kapasitas mental dari semua anggotanya guna menciptakan sejenis proses yang akan menyempurnakan organisasi ”(Peter Senge, 1990) “Organisasi di mana orang-orangnya secara terus-menerus mengembangkan kapasitasnya guna menciptakan hasil yang benar-benar mereka inginkan, di mana pola-pola berpikir baru dan berkembang dipupuk, di mana aspirasi kelompok diberi kebebasan, dan di mana orang-orang secara terus-menerus belajar mempelajari (learning to learn) sesuatu secara bersama” (Burky dan Perry, 1998) Organissasi adalah sebuah kesatuan yang terdiri dari sekelompok orang yang bertindaksecara bersama-sama dalam rangka mencapai tujuan bersama
(Nancy Dixon, 1994) organisasi adalah kemampuan untuk memanfaatkan kapasitas mental dari semua anggotanya guna menciptakan sejenis proses yang akan menyempurnakan organisasi ”(Peter Senge, 1990) “Organisasi di mana orang-orangnya secara terus-menerus mengembangkan kapasitasnya guna menciptakan hasil yang benar-benar mereka inginkan, di mana pola-pola berpikir baru dan berkembang dipupuk, di mana aspirasi kelompok diberi kebebasan, dan di mana orang-orang secara terus-menerus belajar mempelajari (learning to learn) sesuatu secara bersama” (Burky dan Perry, 1998) Organissasi adalah sebuah kesatuan yang terdiri dari sekelompok orang yang bertindaksecara bersama-sama dalam rangka mencapai tujuan bersama
·
Orang-orang
yang ada di dalam suatu organisasi mempunyai suatu keterkaitan yang terus
menerus. Rasa keterkaitan ini, bukan berarti keanggotaan seumur hidup.
Akan tetapi sebaliknya, organisasi menghadapi perubahan yang konstan di dalam
keanggotaan mereka, meskipun pada saat mereka menjadi anggota, orang-orang
dalam organisasi berpartisipasi secara relatif teratur.
·
Dalam
berorganisasi setiap individu dapat berinteraksi dengan semua struktur yang
terkait baik itu secara langsung maupun secara tidak langsung kepada organisasi
yang mereka pilih.. Agar dapat berinteraksi secara efektif setiap individu bisa
berpartisipasi pada organisasi yang bersangkutan. Dengan berpartisipasi setiap
individu dapat lebih mengetahui hal-hal apa saja yang harus dilakukan.
·
Pada
dasarnya partisipasi didefinisikan sebagai keterlibatan mental atau pikiran dan
emosi atau perasaan seseorang di dalam situasi kelompok yang mendorongnya untuk
memberikan sumbangan kepada kelompok dalam usaha mencapai tujuan
Teori
Organisasi yang pernah ada dan berlaku sampai sekarang ada tiga, yaitu :
1. teori organisasi klasik.
2. Teori organisasi neoklasik .
3. Teori organisasi modern.
1. teori organisasi klasik.
2. Teori organisasi neoklasik .
3. Teori organisasi modern.
Langganan:
Postingan (Atom)